analis kesehatan

Rabu, 25 Mei 2011

Iodimetri

Iodimetri merupakan titrasi redoks yang melibatkan titrasi langsung I2 dengan suatu agen pereduksi. I2 merupakan oksidator yang bersifat moderat, maka jumlah zat yang dapat ditentukan secara iodimetri sangat terbatas, beberapa contoh zat yang sering ditentukan secara iodimetri adalah H2S, ion sulfite, Sn2+, As3+ atau N2H4. Akan tetapi karena sifatnya yang moderat ini maka titrasi dengan I2 bersifat lebih selektif dibandingkan dengan titrasi yang menggunakan titrant oksidator kuat.
Pada umumnya larutan I2 distandarisasi dengan menggunakan standar primer As2O3, As2O3 dilarutkan dalam natrium hidroksida dan kemudian dinetralkan dengan penambahan asam. Disebabkan kelarutan iodine dalam air nilainya kecil maka larutan I2 dibuat dengan melarutkan I2 dalam larutan KI, dengan demikian dalam keadaan sebenarnya yang dipakai untuk titrasi adalah larutan I3-.
I2 + I-  -> I3-
Titrasi iodimetri dilakukan dalam keadaan netral atau dalam kisaran asam lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat mengalami reaksi disproporsionasi menjadi hipoiodat.
I2 + 2OH-  <-> IO3-  +  I-  + H2O
Sedangkan pada keadaan asam kuat maka amilum yang dipakai sebagai indicator akan terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini iodide (I-) yang dihasilkan dapat diubah menjadi I2 dengan adanya O2 dari udara bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari asam.
4I- + O2 + 4H+  -> 2I2 + 2H2O
Titrasi dilakukan dengan menggunakan amilum sebagai indicator dimana titik akhir titrasi diketahui dengan terjadinya kompleks amilum-I2 yang berwarna biru tua. Beberapa reaksi penentuan denga iodimetri ditulis dalam reaksi berikut:
H2S + I2 -> S + 2I- + 2H+
SO32- + I2 + H2O -> SO42- + 2I- + 2H+
Sn2+  + I2  -> Sn4+ + 2I-
H2AsO3 + I2 + H2O -> HAsO42- + 2I- + 3H+

White Blood Cell Differential Count (Differential, Diff)

White Blood Cell Differential Count (Differential, Diff)

The white blood cell differential count determines the number of each type of white blood cell, present in the blood. It can be expressed as a percentage (relative numbers of each type of WBC in relationship to the total WBC) or as an absolute value (percentage x total WBC). Of these, the absolute value is much more important than the relative value.
There are five basic white blood cell types:
  • Neutrophils
  • Eosinophils
  • Basophils
  • Lymphocytes
  • Monocytes
Each WBC cell type has its' own unique features.

Neutrophils (Segmented Neutrophils, Segs, Polymorphonucleocytes, Polymorphonuclear Neutrophils, Polys, PMNs)
These are the most common of the WBCs and serve as the primary defense against infection. The typical response to infection or serious injury is an increased production of neutrophils.

Bands/Stabs
Early in the response to infection, immature forms of neutrophils will be seen. These are call Stab or Band cells. The presence of these immature cells is called a "shift to the left" and can be the earliest sign of a WBC response, even before the WBC becomes elevated.

Eosinophils (Eos)
These cells play a role in allergic disorders and in combating parasitic infections.
Elevations in eosinophil counts are associated with:
  • Allergic reactions
  • Parasite infections
  • Chronic skin infections
  • Some cancers
Decreases in eosinophil counts are associated with:
  • Stress
  • Steroid exposure
  • Anything that may suppress WBC production generally

Basophils (Baso's)
These cells can digest bacteria and other foreign bodies (phagocytosis) and also have some role in allergic reactions.
Elevations in basophil counts are associated with:
  • Some cancers
  • Some allergic reactions
  • Some infections
  • Radiation exposure
Diminished basophil counts are associated with:
  • Stress reactions
  • Some allergic reactions
  • Hyperthyroidism
  • Prolonged steroid exposure

Monocytes (Mono's)
These cells respond to inflammation, infection and foreign bodies by ingesting and digesting the foreign material.
Increased monocyte counts are associated with:
  • Recovery from an acute infection
  • Viral illness
  • Parasitic infections
  • Collagen disease
  • Some cancers
Decreased monocyte counts are associated with:
  • HIV infection
  • Rheumatoid arthritis
  • Steroid exposure
  • Some cancers

Lymphocytes (Lymphs)
These cells play both an immediate and delayed role in response to infection or inflammation.
Increased numbers of lymphocytes are seen in:
  • Most viral infections
  • Some bacterial infections
  • Some cancers
  • Graves' disease
Decreased numbers of lymphocytes are seen in:
  • Steroid exposure
  • Some cancers
  • Immunodeficiency
  • Renal failure
  • Lupus
Normal Values*
Neutrophils#/cubic mm%
Men
3,000-7,00050-60
Women1,800-7,70050-60
Pregnancy3,800-10,00050-60
Infant1,000-8500 
8 year old1,500-8000 

Bands/Stabs%
Men
0-3%
Women0-3%
Pregnancy0-3%

Eosinophils#/cubic mm%
Men
50-2501-4
Women0-4500-4
Pregnancy0-4500-4

 Basophils#/cubic mm%
Men
25-1000.5-1.0
Women25-1000.5-1.0
Pregnancy25-1000.5-1.0

 Monocytes#/cubic mm%
Men
100-6002-6
Women0-8000-8
Pregnancy0-8000-8

 Lymphocytes#/cubic mm%
Men
1,000-4,00020-40
Women1,000-4,80020-50
Pregnancy1,300-5,20020-50
Older Children1,000-7,000 
Infants1,000-9,000 
*These are general values taken from a variety of sources. The actual normal values may vary from lab to lab and from one type of testing protocol to another.

Development of Blood Cells

Minggu, 22 Mei 2011

Aanthal Eritrosit Metode Tabung

Seperti hitung lekosit, untuk menghitung jumlah sel-sel eritrosit ada dua metode, yaitu manual dan elektronik (automatik). Metode manual hampir sama dengan hitung lekosit, yaitu menggunakan bilik hitung. Namun, hitung eritrosit lebih sukar daripada hitung lekosit. Orang yang telah berpengalaman saja memiliki kesalahan yang cukup besar dalam menghitung eritrosit (rata-rata sekitar 20%), apalagi orang yang belum berpengalaman atau kerjanya kurang teliti.


Prinsip hitung eritrosit manual adalah darah diencerkan dalam larutan yang isotonis untuk memudahkan menghitung eritrosit dan mencegah hemolisis. Larutan Pengencer yang biasa digunakan adalah :
  • Larutan Hayem : Natrium sulfat 2.5 g, Natrium klorid 0.5 g, Merkuri klorid 0.25 g, aquadest 100 ml. Pada keadaan hiperglobulinemia, larutan ini tidak dapat dipergunakan karena dapat menyebabkan precipitasi protein, rouleaux, aglutinasi.
  • Larutan Gower : Natrium sulfat 12.5 g, Asam asetat glasial 33.3 ml, aquadest 200 ml. Larutan ini mencegah aglutinasi dan rouleaux.
  • Natrium klorid 0.85 %
Bahan pemeriksaan yang dipergunakan adalah darah kapiler, darah EDTA, darah heparin, atau darah amonium-kalium oksalat.

Prosedur
Darah diencerkan 100 x atau 200 x menggunakan pipet eritrosit atau tabung, kocok selama 3 menit supaya homogen. Larutan sampel kemudian dimasukkan/diteteskan ke dalam bilik hitung. Sel-sel eritrosit dihitung di bawah mikroskop dengan perbesaran sedang (40x).

Cara menghitung sel eritrosit adalah :Letakkan bilik hitung di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (10x). Cari kotak penghitungan yang berada di tengah. Kotak tersebut terbagi dalam 25 kotak kecil dan setiap kotak kecil terbagi menjadi menjadi 16 kotak kecil-kecil. Sel eritrosit dihitung dalam 5 kotak kecil, yaitu 4 kotak di sudut dan 1 kotak lagi di tengah. Jumlah eritrosit dihitung dengan rumus :

Hitung eritrosit
= (N / V ) x Pengenceran
= (N / [5 x 0.2 x 0.2 x 0.1 ] ) x 200
= ( N / 0.02 ) x 200
= N x 10.000

dimana : N=jumlah sel eritrosit yang dihitung, V=volume bilik hitung

Nilai Rujukan
  • Dewasa pria : 4.50 - 6.50 (x10^6/mmk)
  • Dewasa wanita : 3.80 - 4.80 (x10^6/mmk)
  • Bayi baru lahir : 4.30 - 6.30 (x10^6/mmk)
  • Anak usia 1-3 tahun : 3.60 - 5.20 (x10^6/mmkl)
  • Anak usia 4-5 tahun : 3.70 - 5.70 (x10^6/mmk)
  • Anak usia 6-10 tahun : 3.80 - 5.80 (x10^6/mmk)

Masalah Klinis
  • Penurunan nilai : kehilangan darah (perdarahan), anemia, leukemia, infeksi kronis, mieloma multipel, cairan per intra vena berlebih, gagal ginjal kronis, kehamilan, hidrasi berlebihan
  • Peningkatan nilai : polisitemia vera, hemokonsentrasi/dehidrasi, dataran tinggi, penyakit kardiovaskuler

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi temuan hasil laboratorium :
  • Pengambilan sampel darah di daerah lengan yang terpasang jalur intra-vena menyebabkan hitung eritrosit rendah akibat hemodilusi
  • Pengenceran tidak tepat
  • Larutan pengencer tercemar darah atau lainnya
  • Alat yang dipergunakan seperti pipet, bilik hitung dan kaca penutupnya kotor dan basah
  • Penghitungan mikroskopik menggunakan perbesaran lemah (10x)

Kamis, 19 Mei 2011

SELALU ADA RENCANA INDAH UNTUKMU

Sang Kuasa selalu punya rencana indah untuk kita umatNya
Sesekali langsung membahagiakan hati…
Terkadang sejenak bertentangan dengan harap
Kau hanya perlu mensyukuri dan merenungi
Usah kau terus mempertanyakan, buang semua logika
Berdoalah senantiasa… dan syukuri baik buruk yang kau rasa
Saat kau berniat baik dan meminta yang terbaik, itulah yang kan Dia beri
Terkadang seketika… seringkali harus lalui hari yang menguji hati
Selalu ada rencana indah untukmu
Walau seringkali kau melupakanNya
Selalu ada rencana indah bagimu
Jika kau terus meminta padaNya

TAK PERNAH BERLALU

Mungkin aku memang lemah
Mungkin aku tak pernah punyai lelah
Saat ku terdiam menangisi pergimu
Terus ku terpaku oleh harapan semu
Sepertinya… t’lah cukup banyak kutulis
T’lah cukup dalam hati ini kuiris
Agar bisa kucoba lagi cinta dari mula
Dengan ia yang mampu merasakannya
Namun cinta untukmu terus bertahan
Di sekeping sisa hati ini pun cinta untukmu kurasakan
Kerinduan hadirmu tak pernah bisa hilang
Oh Tuhan… bagaimana semua ini harus kuartikan ?

Selasa, 17 Mei 2011

uji hidrolisa pati bakteri pada media pati agar

Pati adalah polisakarida yang muncul sebagai polimer bercabang dari glukosa gula sederhana. Ini berarti pati yang benar-benar serangkaian molekul glukosa tersambung bersama untuk membentuk rantai panjang.
Beberapa bakteri mampu menggunakan pati sebagai sumber karbohidrat namun untuk melakukan ini, mereka harus terlebih dahulu menghidrolisis atau memecah pati sehingga dapat masuk ke dalam sel. Bakteri mengeluarkan sebuah exoenzyme yang menghidrolisis pati dengan memecah ikatan antara molekul-molekul glukosa.Enzim ini disebut sebuah diastase.
Glukosa kemudian dapat masuk bakteri dan digunakan untuk metabolisme
Lalu bagaimana cara mengetahui apakah bakteri menghidrolisis pati?
Mari kita pelajari bersma..
Sampel yang digunakan : Bacillus sp
I. Tujuan uji hidrolisis pati :
- Untuk mengetahui kemampuan bakteri dalam menghidrolisis pati atau tidak
- Untuk mengetahui apakah bakteri menghasilkan enzim amylase atau tidak
II. Prinsip : (-)
III. Alat dan Bahan :
- Sampel bakteri
- Media pati agar
- Ohse bulat
- Incubator
- Larutan iodium 1 %
IV. Cara kerja :
Hari pertama
- Siapkan media pati agar, buat titik di tengah media (bagian luar) dengan spidol
- Sterilkan ohse , ambil 1 ohse biakan bakteri
- Inokulasikan sampel bakteri pada titik tersebut (spot inokulasi) dengan menggunakan ohse bulat
- Inkubasi 370C selama 24 jam
Hari kedua
- Teteskan 1-3 tetes larutan iodium 1% pada koloni bakteri yang telah diinokulasi pada media pati agar
- Interpretasi hasil :
(+) terbentuk zona jernih/daerah yang tidak berwarna biru
(-) tidak terbentuk zona jernih

V. Hasil :
(+) terbentuk zona jernih/daerah yang tidak berwarna biru

VI. Kesimpulan :
Bakteri dalam sampel menghidrolisis pati dan menghasilkan enzim amylase

VII. Pembahasan :
- tes ini digunakan untuk mengidentifikasi bakteri yang dapat menghidrolisis pati (amilosa dan amilopektin) dengan menggunakan enzim amilase-dan oligo-1 ,6-glukosidase.
- Sering digunakan untuk membedakan spesies dari genus Clostridium dan Bacillus. l. Karena ukuran besar molekul amilosa dan amilopektin, organisme ini tidak dapat melewati dinding sel bakteri.
- untuk menggunakan pati sebagai sumber karbon, bakteri harus mengeluarkan amilase-dan oligo-1 ,6-glukosidase ke ruang ekstraseluler. Enzim ini memecah molekul pati menjadi glukosa subunit yang lebih kecil yang kemudian dapat masuk langsung ke jalur glikolisis.
- untuk menginterpretasikan hasil uji hidrolisis pati, yodium harus ditambahkan ke dalam pati agar, yodium bereaksi dengan pati membentuk warna coklat tua.
- hidrolisis pati akan menciptakan zona bening disekitar pertumbuhan bakteri.(Bacillus.Subtilis) positif untuk hidrolisis pati.
- Amilase adalah enzim yang menghidrolisis pati, polimer glukosa, menjadi monomer yang kemudian dapat diangkut ke dalam sel. Dalam beberapa kasus, bakteri bisa memproduksi atau menyimpan pati, dalam hal ini bakteri akan berwarna gelap.
- Sifat-sifat pati agar-agar terkait dengan isinya seperti ekstrak daging sapi ,pati terlarut dan agar-agar
- Beef ekstrak menyediakan nitrogen, vitamin, karbon dan asam amino, sedangkan agar-agar adalah agen solidifying.
- Ini adalah media diferensial digunakan untuk menentukan apakah suatu bakteri dapat menggunakan pati sebagai sumber karbon dan sumber energi.
Terima kasih sudah membaca artikel saya…
Silakan mengirimkan kritik dan saran anda, agar saya dapat menulis artikel yang lebih baik lagi..
Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi Anda…